Tuesday, 8 December 2009
Antara cinta kita kepada Rasulullah saw dengan cinta Rasulullah saw kepada kita
Dalam sebuah hadits qudsi, dikisahkan pada suatu hari Rasulullah sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasul, siapakah mahluk yang nantinya paling mulia di sisi Allah?”
Rasulullah SAW tidak langsung menjawab, melainkan balik bertanya kepada sahabat yang lain, “Menurut kalian siapa?” Satu sahabat menjawab, “Pasti malaikat. Karena malaikat adalah mahluk yang dapat berkomunikasi langsung dengan Allah.”
Rasulullah menggeleng, “Malaikat sudah pasti mulia. Dari dulu hingga nanti. Tidak ada dosa dan cela, hanya ibadah saja.”
Sahabat yang lain menyahut, “Ooo, saya tahu. Kami, ya Rasul! Kami sahabat-sahabat Engkau. Pasti kami yang nanti paling mulia di sisi Allah.”
Rasul kembali tersenyum, seraya berkata, “Tentu saja kalian mulia. Kalian hidup di jamanku, kalian mengenal aku, dekat dengan aku, berkomunikasi dengan aku, dan mengikuti sunnahku.”
Semua sahabat bingung, “Lantas, siapa mahluk yang paling mulia nanti di sisi Allah?”
Rasulullah diam. Tak lama kemudian beliau mulai menangis. Dan Rasul pun berkata, “Mahluk yang paling mulia nanti di sisi Allah adalah manusia yang hidup setelah aku, tidak bertemu denganku, tidak bercakap denganku. Namun, dia mengenalku dan dia mengikuti sunnahku.” Air mata Rasulullah makin bercucuran.
Saudaraku, bahkan di penghujung hidupnya saat nyawa tinggal di tenggorokan, Rasulullah tiada memikirkan hal lain kecuali kita, umatnya. Bukan Fatimah putrinya, bukan Aisyah istrinya, bukan para sahabatnya. Tapi kita. “Ummati... Ummati... (Umatku... Umatku...),” demikian bisiknya.
Rasulullah SAW tidak langsung menjawab, melainkan balik bertanya kepada sahabat yang lain, “Menurut kalian siapa?” Satu sahabat menjawab, “Pasti malaikat. Karena malaikat adalah mahluk yang dapat berkomunikasi langsung dengan Allah.”
Rasulullah menggeleng, “Malaikat sudah pasti mulia. Dari dulu hingga nanti. Tidak ada dosa dan cela, hanya ibadah saja.”
Sahabat yang lain menyahut, “Ooo, saya tahu. Kami, ya Rasul! Kami sahabat-sahabat Engkau. Pasti kami yang nanti paling mulia di sisi Allah.”
Rasul kembali tersenyum, seraya berkata, “Tentu saja kalian mulia. Kalian hidup di jamanku, kalian mengenal aku, dekat dengan aku, berkomunikasi dengan aku, dan mengikuti sunnahku.”
Semua sahabat bingung, “Lantas, siapa mahluk yang paling mulia nanti di sisi Allah?”
Rasulullah diam. Tak lama kemudian beliau mulai menangis. Dan Rasul pun berkata, “Mahluk yang paling mulia nanti di sisi Allah adalah manusia yang hidup setelah aku, tidak bertemu denganku, tidak bercakap denganku. Namun, dia mengenalku dan dia mengikuti sunnahku.” Air mata Rasulullah makin bercucuran.
Saudaraku, bahkan di penghujung hidupnya saat nyawa tinggal di tenggorokan, Rasulullah tiada memikirkan hal lain kecuali kita, umatnya. Bukan Fatimah putrinya, bukan Aisyah istrinya, bukan para sahabatnya. Tapi kita. “Ummati... Ummati... (Umatku... Umatku...),” demikian bisiknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

