Monday, 11 May 2009

Ta'aruf...what is it?


Ta’aruf sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat.

Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta’aruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.

Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.

Ketika melakukan ta’aruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya.

Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga.

Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi ta`aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.

"Jadi ta`aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua."

Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting.

Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.

Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Dan khusus dalam kasus ta`aruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh disana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua tapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena tapak tangan wanita pun bukan termasuk aurat.

Lalu bagaimana dengan keharusan ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul bashar tempatnya bukan saat ta`aruf, karena pada saat ta`aruf, secara khusus Rasulullah SAW memang memerintahkan untuk melihat dengan seksama dan teliti.

Selain urusan melihat pisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran. Sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami istri ini.

Rasulullah orang kaya lho...

Sejarah mencatat bahwa perjalanan hidup Muhammad rasulullah begitu sempurna, pola hidup yang beliau terapkan hingga sekarang masih dipakai, dalam segala aspek kehidupan termasuk diantaranya system bisnis rasulullah, bila semasa hidup rasulullah dikenal sebagai seorang bisnis owner, pertanyaan nya benarkah rasulullah orang yang miskin, bila rasulullah dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses, seberapa banyakkah harta yang dimiliki rasulullah, pertanyaan-pertanyaan ini muncul ketika saya melihat begitu banyak ummat muslim yang hidup dalam keadaan miskin, miskin ilmu, miskin jiwa, dan miskin harta, dan aneh nya lagi banyak diantara mereka beranggapan hidup miskin adalah pola hidup rasul, dan kita sebagai ummat Muhammad patut untuk mencontoh nya, menurut saya ini adalah pandangan yang keliru.

Dari beberapa buku riwayat hidup rasulullah, memang tidak ada satupun riwayat yang mengkisahkan bahwa rasul adalah orang miskin ataupun orang kaya, namun riwayat yang paling sering kita dengar adalah rasul terlahir dalam keadaan yatim dan Abdullah tidak meninggalkan banyak warisan bagi rasul, dan itu berarti rasullah bukan orang yang kaya, lalu seiring berjalannya waktu Muhammad kecil diterpa berbagai macam cobaan, dari perginya orang-orang yang dicintainya hingga ia harus tinggal dan diasuh oleh pamannya abu thalib yang hidup miskin dan banyak anak, dari sinilah rasulullah memulai karirnya,awalnya beliau menjadi seorang Employee(karyawan/pegawai), pekerjaan beliau hari-hari adalah mengembala domba milik masyarakat quraiys, namun upah yang diterima rasul tidak banyak membantu perekonomian keluarga pamannya, hingga suatu hari rasul mendapat tawaran untuk bergabung ke dalam bisnis yang dikelola oleh khadijah, dan Muhammad langsung mendapat tugas untuk mengikuti kabilah yang akan melakukan perjalanan bisnis ke negri syam, dalam perjalanan bisnis ini lah rasulullah menunjukkan kemampuannya dalam berbisnis, beliau memiliki empat stategi marketing, mind share(strategic), market share(tactic), heart share(vslue), soul share(generous). Pada kali kedepan kita akan membahas keempat strategi marketing rasul bersama-sama.

Dengan menggunakan stategi ini lah nama Rasulullah dikenal sebagai seorang pebisnis, walaupun saat itu beliau masih sebagai Employee(karyawan/pegawai) di perusahaan khadijah namun beliaun telah dianggap sebagai pebisnis yang handal, dan tidak lama kemudian rasul menikah dengaan khadijah, si pemilik perusahaan,dan belaiu tidak lagi menjadi pegawai tapi berubah status menjadi business owner(pengusaha)

Setelah kita melihat kembali sejarah hidup rasul, sedikit banyaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rasul bukan lah orang miskin, rasul orang kaya hanya saja  beliau hidup sederhana, qanaah, tapi tetap rajin dalam berusaha, kalau rasul miskin pastinya beliau terdaftar kedalam salah  satu dari delapan ashnaf penerima zakat, dan kalau rasul miskin pastinya beliau tidak bisa membantu banyak anak yatim, dan fakir miskin, sekarang tinggal kita sebagai ummat Muhammad, masihkah kita menganggap rasul kita miskin sehingga kita juga harus ikutan miskin, atau kita menganggap rasul kita adalah orang yang kaya hingga kita harus mengikuti pola hidup rasul, dalam hal ini rasul pernah bersabda bahwa “kemiskinan lebih dekat kepada kekufuran” dalam hadis lain beliau bersabda “muslim yang kuat lebih di cintai Allah dari pada muslim yang lemah”

Robert T.Kiyosaki dalam bukunya The Cashflow Quadrant membagi manusia dalam empat posisi, yaituEmployee(karyawan),self employed(pekerja lepas), Business Owner(pengusaha), dan Investor(pemodal), dua posisi awal adalah posisi dimana orang yang berada disitu menginginkan hidup berada pada titik aman, sedangkan dua posisi yang akhir adalah posisi yang penuh resiko, namun bila kita melihat sejarah rasulullah, beliau pernah menempati semua posisi, namun yang menariknya dan patut kita jadikan pelajaran bahwa rasul memulainya dari dari self employed menjadi employee, kemudian business owner dan investor.

Jadi tidak ada salahnya kita memulai untuk memperbaiki kondisi perekonomian muslim dengan memulai dari diri sendiri, mengutip kata-kata Abdullah gimnastiar "muslim tidak boleh kepingin kaya tapi harus kaya", untuk mewujudkan sebuah keinginan buat lah visi dan misi, karena orang yang hidup tanpa tujuan yang jelas tidak akan pernah menemui kesuksesan, jangan pernah takut untuk mencoba, orang yang takut untuk mencoba, benar ia tidak akan pernah pernah gagal, tapi sayangnya ia tidak pernah punya kesempatan untuk sukses.